Tatkala matahari dengan sombongnya
memamerkan sinarnya, tiba-tiba otakku tergoda untuk berkeliling kembali ke
waktu di mana hatiku pernah tercecer (bukan cuma barang loh yang bisa tercecer,
hati pun bisa).
Barang tercecer pasti pemiliknya yang
teledor, hati pun seperti itu. Hati yang tercecer bukan salah orang yang
menemukannya namun salah pemiliknya yang sudah menyimpannya sembarangan. Kala
itu hati ini tercecer beberapa waktu yang cukup lama, kurang lebih 1 bulan, aku
beranggapan hati ini bukan hanya sekedar tercecer namun terjebak di hati yang
salah. Hal yang paling membuat hari-hariku tidak bisa menikmati damainya dunia
ini karena hati ini seakan terjebak di dalam labirin yang begitu besar dan
parahnya aku tidak tau jalan keluar.
Ada begitu banyak hal yang terjadi
kala itu, aku seakan orang yang terpenjara dengan vonis hukuman mati, aku
pasrah dengan hukuman itu, hatiku tercecer karena perbuatanku yang teledor.
Seperti pepatah “senjata makan tuan”, ada yang menancapkan pistol ke pelipisku
dan ternyata itu adalah pistolku sendiri namun tak ada sedikitpun penyesalan
kala itu karena itu ulahku sendiri meskipun aku sering merintih kala malam
datang menyapa, saat menenggelamkan kepala di boneka angry birdsku yang selama
ini selalu menemaniku menikmati hati yang tercecer ini, apalah daya aku hanya
bisa menikmati susana ini. Saat adzan subuh berkumandang di seluruh mesjid,
seakan mata begitu tidak ikhlas untuk terbangun.
Suara indah
Raisa yang menyanyikan lagu Kali Kedua saat ada orang menelfon seakan seperti
sirine ambulance tatkala orang itu yang menelfonku pagi-pagi. Jadwal nelfon
yang cukup intens sering membuatku risih dan tak jarang membuat moodku tidak
karuang. Bagiku telfonnya seakan teror dari orang yang akan segera membunuhku. Jadwal
pertemuan yang setiap hari seperti jadwal minum obat seolah membuatku bosan.
Film korea,
roti bakar, terang bulan, martabak, es krim yang menjadi senjatanya untuk akrab
dengan mereka yang menjadi saksi bisu kala itu, bahkan tak jarang Silver Queen
juga adalah senjata utama ketika aku sudah ngoceh seperti ibu-ibu. Hhhmmm mungkin
dirinya berfikir aku bisa dibeli dengan coklat atau makanan-makanan lainnya.
Sampai pada
akhirnya aku meminta paksa hatiku karena telah menemukannya kembali, saat itu,
orang itu bersih kukuh tidak ingin mengembalikan hatiku, sampai pada akhirnya
secara terpaksa aku mengambilnya kembali. Ada rasa bersalah ketika itu namun
aku juga sudah tidak bisa menjalani ini, hidup seakan terpenjara dan jauh dari
kata BEBAS yang membuat ruang gerakku
terbatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar