Foto

Senin, 24 Oktober 2016

Hati Tercecer



Tatkala matahari dengan sombongnya memamerkan sinarnya, tiba-tiba otakku tergoda untuk berkeliling kembali ke waktu di mana hatiku pernah tercecer (bukan cuma barang loh yang bisa tercecer, hati pun bisa).
Barang tercecer pasti pemiliknya yang teledor, hati pun seperti itu. Hati yang tercecer bukan salah orang yang menemukannya namun salah pemiliknya yang sudah menyimpannya sembarangan. Kala itu hati ini tercecer beberapa waktu yang cukup lama, kurang lebih 1 bulan, aku beranggapan hati ini bukan hanya sekedar tercecer namun terjebak di hati yang salah. Hal yang paling membuat hari-hariku tidak bisa menikmati damainya dunia ini karena hati ini seakan terjebak di dalam labirin yang begitu besar dan parahnya aku tidak tau jalan keluar.
Ada begitu banyak hal yang terjadi kala itu, aku seakan orang yang terpenjara dengan vonis hukuman mati, aku pasrah dengan hukuman itu, hatiku tercecer karena perbuatanku yang teledor. Seperti pepatah “senjata makan tuan”, ada yang menancapkan pistol ke pelipisku dan ternyata itu adalah pistolku sendiri namun tak ada sedikitpun penyesalan kala itu karena itu ulahku sendiri meskipun aku sering merintih kala malam datang menyapa, saat menenggelamkan kepala di boneka angry birdsku yang selama ini selalu menemaniku menikmati hati yang tercecer ini, apalah daya aku hanya bisa menikmati susana ini. Saat adzan subuh berkumandang di seluruh mesjid, seakan mata begitu tidak ikhlas untuk terbangun.
            Suara indah Raisa yang menyanyikan lagu Kali Kedua saat ada orang menelfon seakan seperti sirine ambulance tatkala orang itu yang menelfonku pagi-pagi. Jadwal nelfon yang cukup intens sering membuatku risih dan tak jarang membuat moodku tidak karuang. Bagiku telfonnya seakan teror dari orang yang akan segera membunuhku. Jadwal pertemuan yang setiap hari seperti jadwal minum obat seolah membuatku bosan.
            Film korea, roti bakar, terang bulan, martabak, es krim yang menjadi senjatanya untuk akrab dengan mereka yang menjadi saksi bisu kala itu, bahkan tak jarang Silver Queen juga adalah senjata utama ketika aku sudah ngoceh seperti ibu-ibu. Hhhmmm mungkin dirinya berfikir aku bisa dibeli dengan coklat atau makanan-makanan lainnya.
            Sampai pada akhirnya aku meminta paksa hatiku karena telah menemukannya kembali, saat itu, orang itu bersih kukuh tidak ingin mengembalikan hatiku, sampai pada akhirnya secara terpaksa aku mengambilnya kembali. Ada rasa bersalah ketika itu namun aku juga sudah tidak bisa menjalani ini, hidup seakan terpenjara dan jauh dari kata BEBAS yang  membuat ruang gerakku terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar